Pendaftaran Reuni Akbar Alumni 2026 telah dibukaKajian Subuh Bersama setiap Ahad pekan kedua di Masjid Pusat
Opini

Belajar dari Kesederhanaan Para Kiai

Para kiai yang mendidik kita hidup dengan sangat sederhana, namun pengaruhnya begitu luas. Di tengah budaya pamer, kesederhanaan mereka adalah pelajaran yang semakin relevan.

Fikri Achmad Anshori2 menit baca
Foto utama — Belajar dari Kesederhanaan Para Kiai

Siapa pun yang pernah mondok tentu memiliki kenangan tentang kiai dan para guru yang hidup dengan sangat bersahaja. Rumah yang sederhana, pakaian yang itu-itu saja, makanan yang tidak berlebihan, namun dengan hati yang lapang dan pintu yang selalu terbuka bagi siapa pun yang datang meminta nasihat.

Kesederhanaan para kiai bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena pilihan. Mereka memahami bahwa dunia hanyalah tempat singgah, dan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari apa yang ia miliki, melainkan dari ketakwaan dan manfaatnya bagi orang lain. Sikap ini sejalan dengan teladan Rasulullah yang hidup sederhana meskipun beliau adalah pemimpin umat.

Hari ini, kita hidup di tengah budaya yang mendorong kita untuk terus memperlihatkan pencapaian. Gaya hidup menjadi tontonan, dan tanpa sadar kita mulai mengukur kebahagiaan dari perbandingan dengan orang lain. Di sinilah kesederhanaan para kiai menjadi pelajaran yang semakin relevan.

Sederhana tidak berarti menolak kemajuan atau enggan meraih rezeki yang halal. Sederhana berarti menempatkan harta di tangan, bukan di hati. Kita boleh bekerja keras dan sukses, namun tetap rendah hati, tidak berlebih-lebihan, dan senantiasa ingat bahwa di dalam harta kita ada hak orang lain.

Mungkin inilah warisan terbesar para guru kita: bukan hanya ilmu yang mereka ajarkan di kelas, tetapi juga cara mereka menjalani hidup. Semoga kita mampu meneladani kesederhanaan itu, dan semoga Allah merahmati para kiai dan guru yang telah mendidik kita dengan penuh keikhlasan.

BagikanWhatsAppFacebookX

Artikel Terkait