Pendaftaran Reuni Akbar Alumni 2026 telah dibukaKajian Subuh Bersama setiap Ahad pekan kedua di Masjid Pusat
Opini

Pendidikan Karakter Dimulai dari Rumah

Sekolah dan pesantren berperan besar, tetapi rumah tetaplah madrasah pertama. Keteladanan orang tua dalam hal-hal kecil membentuk karakter anak lebih kuat daripada nasihat panjang.

Fikri Achmad Anshori1 menit baca
Foto utama — Pendidikan Karakter Dimulai dari Rumah

Banyak orang tua menaruh harapan besar pada sekolah dan pesantren untuk membentuk akhlak anak-anak mereka. Harapan itu wajar, karena lembaga pendidikan memang dirancang untuk mendidik. Namun, kita perlu jujur mengakui bahwa rumah tetap menjadi madrasah pertama dan utama bagi setiap anak.

Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Nasihat untuk jujur akan kehilangan maknanya jika anak menyaksikan orang tuanya berbohong dalam urusan kecil. Ajakan untuk shalat tepat waktu akan lebih mudah diterima jika anak melihat ayah dan ibunya bergegas ketika azan berkumandang.

Pendidikan karakter di rumah tidak membutuhkan kurikulum yang rumit. Ia tumbuh dari kebiasaan sehari-hari: makan bersama sambil berbincang, membiasakan mengucapkan terima kasih dan meminta maaf, melibatkan anak dalam pekerjaan rumah, serta memberi ruang bagi mereka untuk bercerita tanpa takut dihakimi.

Tantangan terbesar hari ini adalah gawai yang sering kali mengambil alih waktu kebersamaan keluarga. Orang tua perlu membuat kesepakatan yang adil tentang penggunaan layar, dan yang lebih penting, memberi contoh dengan meletakkan gawai ketika sedang bersama anak.

Pesantren dan sekolah adalah mitra, bukan pengganti peran orang tua. Ketika rumah dan lembaga pendidikan berjalan seiring, insya Allah akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan kokoh menghadapi zaman.

BagikanWhatsAppFacebookX

Artikel Terkait