Adab Menuntut Ilmu: Bekal Sebelum Melangkah
Para ulama terdahulu mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu. Inilah bekal yang perlu disiapkan setiap penuntut ilmu, dari meluruskan niat hingga memuliakan guru.
Di pesantren, kita mengenal ungkapan yang sering diulang para guru: adab lebih tinggi daripada ilmu. Ungkapan ini bukan untuk merendahkan ilmu, melainkan untuk menegaskan bahwa ilmu hanya akan membawa berkah apabila dibawa oleh pribadi yang beradab. Tanpa adab, ilmu bisa berubah menjadi alat untuk menyombongkan diri dan merendahkan orang lain.
Sejarah para ulama memberikan teladan yang indah. Diriwayatkan bahwa ibunda Imam Malik memakaikan sorban kepada putranya lalu berpesan agar ia belajar adab dari gurunya sebelum mempelajari ilmunya. Abdullah bin Al-Mubarak juga dikenal dengan ucapannya bahwa ia mempelajari adab dalam waktu yang lebih lama dibandingkan waktu yang ia gunakan untuk mempelajari ilmu.
Adab pertama adalah meluruskan niat. Menuntut ilmu hendaknya diniatkan untuk mencari rida Allah, menghilangkan kebodohan dari diri sendiri dan orang lain, serta menghidupkan agama. Kitab Ta'lim al-Muta'allim karya Syekh Az-Zarnuji yang akrab di kalangan santri menempatkan pembahasan niat di bagian awal, karena niat yang keliru akan membelokkan seluruh perjalanan belajar.
Adab berikutnya adalah memuliakan guru dan majelis ilmu: hadir tepat waktu, mendengarkan dengan saksama, tidak memotong pembicaraan, serta bertanya dengan santun. Termasuk di dalamnya menghormati kitab dan sumber ilmu. Di era digital, adab ini meluas pada cara kita mengambil ilmu dari internet, yaitu memilih guru yang jelas sanad dan kapasitas keilmuannya, bukan sekadar yang paling populer.
Terakhir, seorang penuntut ilmu perlu bersabar dan mengamalkan apa yang telah dipelajari. Ilmu tidak diraih dalam semalam, dan keberkahannya tampak ketika ia menjelma menjadi amal serta akhlak. Semoga Allah menjadikan kita penuntut ilmu yang beradab, dan menjadikan ilmu kita cahaya bagi diri sendiri serta orang-orang di sekitar kita.
