Tadabbur Surah Al-Insyirah: Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
Surah Al-Insyirah turun sebagai penghiburan bagi Rasulullah di masa-masa sulit dakwah. Delapan ayatnya menyimpan pelajaran tentang harapan, kesungguhan, dan tempat kembali seorang hamba.
Surah Al-Insyirah, yang juga dikenal dengan nama Asy-Syarh, adalah surah Makkiyah yang terdiri dari delapan ayat. Surah ini turun pada masa ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi beratnya tantangan dakwah di Makkah. Allah membukanya dengan pertanyaan yang penuh kasih: bukankah Kami telah melapangkan dadamu?
Ayat-ayat awal mengingatkan nikmat Allah yang telah diberikan: kelapangan dada, diangkatnya beban yang memberatkan punggung, dan ditinggikannya sebutan nama beliau. Tadabbur atas ayat-ayat ini mengajak kita menengok ke belakang dan menghitung pertolongan Allah yang pernah datang dalam hidup kita. Sering kali kita lupa bahwa kesulitan yang dahulu terasa tak tertanggungkan ternyata telah berlalu dengan izin-Nya.
Kemudian datang dua ayat yang begitu akrab di telinga kita: "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." Para ahli tafsir menjelaskan bahwa kata al-'usr (kesulitan) disebut dalam bentuk definit sehingga menunjuk pada kesulitan yang sama, sedangkan yusr (kemudahan) disebut dalam bentuk indefinit sehingga menunjuk pada kemudahan yang berbeda. Karena itu masyhur ungkapan bahwa satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.
Perhatikan pula bahwa Allah menggunakan kata ma'a, yang berarti bersama, bukan sesudah. Kemudahan itu tidak selalu menunggu di ujung kesulitan; ia sering hadir berdampingan dengannya, berupa kesabaran yang dianugerahkan, orang-orang baik yang dihadirkan, atau pelajaran berharga yang hanya bisa dipetik di masa sulit.
Surah ini ditutup dengan perintah yang sangat praktis: apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, bersungguh-sungguhlah dalam urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap. Seorang mukmin tidak berhenti pada keluh kesah. Ia terus bergerak dari satu kebaikan menuju kebaikan berikutnya, sambil menggantungkan seluruh harapannya hanya kepada Allah.
